Kementerian Komdigi Tingkatkan Kecakapan Aman Digital Wali Murid KB TK Al Wahyu Surabaya

  • Jun 08, 2026
  • Hutrimas Wimapiguna Sumarjan

KIM Kertajaya Surabaya – Transformasi digital yang semakin pesat telah membawa berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru, khususnya bagi anak-anak yang kini tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan yang serba digital. 

Menyadari pentingnya peran keluarga dalam membentuk kebiasaan digital yang sehat, para wali murid KB/TK Al Wahyu Surabaya mengikuti kegiatan Pelatihan Literasi Digital, Aman Digital, dan PP Tunas yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. 

Kegiatan yang berlangsung di Quest Hotel Darmo Surabaya tersebut diikuti dengan antusias oleh para orang tua dan wali murid. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kecakapan digital masyarakat sekaligus memperkuat peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak.

Dalam sambutannya, penyelenggara menyampaikan bahwa keluarga memiliki posisi strategis dalam membangun karakter anak di era digital. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pendamping, pembimbing, dan teladan dalam penggunaan teknologi yang bijak dan bertanggung jawab.

Peserta mendapatkan berbagai materi yang relevan dengan tantangan digital saat ini, mulai dari pengenalan literasi digital, keamanan berinternet, perlindungan data pribadi, etika bermedia digital, hingga pemanfaatan teknologi sebagai sarana pembelajaran yang positif bagi anak usia dini. Materi yang disampaikan dirancang secara praktis agar mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para orang tua.

Dalam sesi Literasi Digital, narasumber Hutrimas Wimapiguna Sumarjan selaku Pandu Literasi Digital Kementerian Komdigi RI menjelaskan bahwa kemampuan digital saat ini tidak hanya sebatas kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan menyaring informasi yang diterima.

Menurutnya, derasnya arus informasi di internet menuntut masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima berbagai informasi yang beredar. Orang tua perlu memahami cara mengenali informasi yang valid, membedakan fakta dan opini, serta mengidentifikasi berbagai bentuk hoaks dan disinformasi yang dapat berdampak negatif bagi keluarga.

"Di era digital saat ini, orang tua harus menjadi contoh sekaligus pendamping bagi anak dalam menggunakan teknologi. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Oleh karena itu, membangun budaya digital yang sehat harus dimulai dari lingkungan keluarga," jelasnya.

Selain itu, peserta juga diajak memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang kreatif dan edukatif. 

Dengan pendampingan yang tepat, perangkat digital dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan, kreativitas, serta kemampuan belajar anak sejak usia dini.

Salah satu materi yang mendapatkan perhatian besar dari peserta adalah sesi Aman Digital. Dalam sesi ini dibahas berbagai potensi risiko yang dapat dihadapi anak ketika mengakses internet, mulai dari paparan konten yang tidak sesuai usia, perundungan siber (cyberbullying), penipuan digital, pencurian identitas, hingga ancaman kebocoran data pribadi.

Para orang tua diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengawasan penggunaan gawai, pengaturan waktu layar (screen time), pemanfaatan fitur kontrol orang tua (parental control), serta pentingnya membangun komunikasi terbuka dengan anak mengenai aktivitas mereka di dunia digital.

Narasumber menekankan bahwa keamanan digital bukan hanya persoalan teknologi, melainkan juga persoalan perilaku dan kesadaran. Oleh karena itu, edukasi sejak dini mengenai etika dan keamanan berinternet menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak-anak.

Selain materi literasi dan keamanan digital, peserta juga memperoleh sosialisasi mengenai Program PP Tunas yang bertujuan mendorong terciptanya ekosistem digital yang aman, nyaman, sehat, dan produktif bagi generasi muda. Program ini mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya keluarga dan satuan pendidikan, untuk berkolaborasi dalam membangun karakter digital anak yang positif.

Melalui Program PP Tunas, orang tua didorong untuk menjadi pendamping utama yang mampu menanamkan nilai-nilai etika, tanggung jawab, sopan santun, serta kesadaran akan pentingnya menjaga privasi dan keamanan saat beraktivitas di ruang digital.

Kepala KB/TK Al Wahyu Surabaya, Wahyuningsih, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi para orang tua dalam menghadapi tantangan pengasuhan di era digital yang terus berkembang.

"Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan wawasan dan pemahaman yang sangat dibutuhkan oleh para orang tua saat ini. Kehadiran teknologi digital tidak dapat dihindari, sehingga yang perlu dilakukan adalah membekali diri dengan pengetahuan yang cukup agar dapat mendampingi anak secara tepat dan bijaksana," ujarnya.

Ia berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga para orang tua semakin siap dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Melalui kegiatan ini, Pandu Literasi Digital Kementerian Komdigi RI terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas edukasi digital kepada berbagai lapisan masyarakat, termasuk lingkungan pendidikan anak usia dini. 

Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi digital sekaligus membangun budaya digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab.

Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, sekolah, dan keluarga, diharapkan akan lahir generasi Indonesia yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang baik, mampu berpikir kritis, serta beretika dalam berinteraksi di ruang digital.

(KIM Kertajaya Surabaya)